Triyani’s Weblog

Tax Blogging and Sharing

Pelanggan Listrik Berdaya 1.300 KV Mungkin Kena PPN

Pada dasarnya, Listrik merupakan Barang Kena Pajak (BKP); PLN selaku pemasok Listrik juga merupakan Pengusaha Kena Pajak (PKP), sehingga atas penyerahan Listrik di Indonesia (di dalam daerah pabean) memang terutang PPN. Hanya saja karena listrik merupakan kategori barang strategis, PPN yang terutang atas penyerahan listrik tersebut Dibebaskan, kecuali listrik untuk perumahan dengan daya diatas 6.600 watt.

–yaa wajar donk kalo yg punya daya diatas 6.600 watt ga dapat fasilitas pembebasan PPN, pasti rumahnya dah kategori mewah khan :P–

Kalau sekarang ada wacana listrik dengan daya 1.300 akan dikenakan PPN, apakah berarti listrik sudah tidak lagi dianggap sebagai barang strategis sehingga tidak perlu ada fasilitas pembebasan PPN ?.. entahlah..

yang jelas listrik di sekitar tempat tinggalku sering byar pet, termasuk setengah harian tadi. Padahal listrik mati di rumah artinya aku hanya bisa bekerja paling lama 2 jam (sesuai umur batterai laptopku hheheheheh).

Kembali ke masalah wacana pengenaan PPN thd listrik dg daya 1300 watt ini.. jadi timbul tanda tanya jg. kalau tujuannya hanya target penerimaan terlampaui, jelas cara ini akan sangat efektif. cara paling mudah untuk menaikkan penerimaan pajak, salah satunya melalui PPN. Apalagi pengenaan PPN atas barang yang jelas2 dikonsumsi oleh hampir seluruh rakyat di Indonesia seperti listrik ini.

Kalau fasilitas pembebasan PPN atas penyerahan listrik ini di cabut, semua pelanggan listrik nggak mungkin akan bisa ngemplang (tidak bayar) PPN, kecuali dengan berhenti berlangganan. Kalau tidak sampai ke kas negara, bukan pelanggan yang ngemplang, tapi pemungutnya.

Apakah tidak ada alternatif lain?.. hiks kesian banget sih jadi rakyat kecil di Indonesia.. :(
——————

Dirjen Pajak: Pelanggan Listrik Berdaya 1.300 KV Mungkin Kena PPN

– ANTARA News – 20-Feb-2008 –

Jakarta (ANTARA News) – Pelanggan listrik dengan daya 1.300 kv dan di
atasnya kemungkinan akan dikenakan pajak pertambahan nilai (PPN) sebesar
10 persen.

“Memang ada pembicaraan soal itu. Saya kira nanti dalam rangka APBNP
2008, itu akan ada pembahasannya,” kata Dirjen Pajak Depkeu, Darmin
Nasution di Jakarta, Selasa.

Namun Darmin tidak bersedia menjelaskan lebih lanjut rencana pengenaan
PPN bagi pelanggan listrik itu karena idenya bukan berasal dari
pihaknya. “Kita sendiri kan bukan pengambil inisiatif mengenai hal itu,
jadi silahkan tanya ke sana (pengambil inisiatif),” tegasnya.

Darmin juga tidak bersedia menyebutkan potensi penerimaan pajak jika PPN
listrik itu benar-benar diterapkan di Indonesia.

“Kalau listrik dalam beberapa diskusi sudah dibicarakan, tapi itungannya
seperti apa, belum tahu berapa angkanya. Saya belum bisa jawab karena
usulnya bukan dari kita, harus saya cek,” katanya.

Sementara itu mengenai tarif final PPh jasa konstruksi sebesar 4 persen,
Darmin mengatakan tarif itu sangat rendah karena biasanya tarifnya
mencapai 30 persen. “Yang kena pajak kan memang profit kan, jadi
sebenarnya 4 persen itu rendah,” katanya.

Ia membantah anggapan bahwa pengenaan PPh dengan tarif final 4 persen
itu akan menghilangkan fasilitas/insentif berupa pengurangan tarif pajak
bagi perusahaan go publik sebesar lima persen.

“Memang ada perbedaan antara tarif final dengan tidak final. Kalau
final, perusahaan mau untung atau rugi tetap bayar segitu, sedangkan
jika tarifnya tidak final maka kalau rugi gak bayar. Kalau untungnya
besar bayarnya lebih mahal dari yang normal,” jelasnya.(*)

About these ads

Februari 22, 2008 - Posted by | Pajak, Pajak lainnya, PPN, Tangerang | ,

10 Komentar »

  1. gak ngerti kadang dengan kebijakan pemerintah, yang kayaknya cuma ngejar target penerimaan doang, sementara pengeluarannya kok tidak dikritisi ya ?padahal kalau mau diefisiensi dari segi pengeluaran bisa aja kok, tinggal kemauan dari para pemegang keputusan. Akan tiba suatu hari di mana para pemimpin di tanya bagaimana mereka membuat suatu keputusan yang mempengaruhi banyak orang. Tapi mereka tidak menjawab melalui mulutnya, hanya tangan dan kaki yang akan bersaksi, di jalan manakah ia meninggalkan jejak jari dan jejak kaki.

    Komentar oleh wisnu | Februari 22, 2008 | Balas

  2. Kasihan sekali saya :-((

    kita rakyat kecil nda bisa ngapain2x ya mba ?

    Komentar oleh indrio | Februari 22, 2008 | Balas

  3. yaa,.. entahlah mas.. heran yah. kenapa pemerintah sepertinya menjadikan rakyat kecil sbg obyek. gak kebayang dehh..
    minyak tanah antri; nyarinya aja susah. Kedelai mahal, tahu tempe mahal (ehh masih susah ga sih cari kedelai dkk?).

    lha kalo para pejabat.. listriknya difasilitasi negara khan?
    huhh…nyebelin deh pokoke …

    Komentar oleh triyani | Februari 22, 2008 | Balas

  4. Aku gak tau mau kemana negara ini…

    Komentar oleh indra1082 | Februari 23, 2008 | Balas

  5. #4. ehh ada tamu :)
    Terima kasih atas kunjungannya mas Indra. Salam kenal.

    Komentar oleh triyani | Februari 23, 2008 | Balas

  6. beginilah nasib rakyat di negeri yang katanya makmur ini.

    Komentar oleh away | Februari 25, 2008 | Balas

  7. kalo bukan pak Darmin yg usul.. trus dari mana ya mbak?
    jangan-jangan DPR …???

    Komentar oleh nindityo | Februari 29, 2008 | Balas

  8. #7. wahh.. kurang tahu jg yaa pak :)

    Komentar oleh triyani | Maret 21, 2008 | Balas

  9. BBM dah mau naik…
    pajak sebagai tulang punggung keuangan negara…

    Komentar oleh arif darmawan setianto | Mei 23, 2008 | Balas

  10. mw tanya mbak… kalo penambahan daya listrik menjadi 13.000 untuk kantor apakah juga dikenakan ppn dan pph???? mhn infox

    Komentar oleh muhammad musyaffa, SH | Mei 7, 2013 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 184 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: