Triyani’s Weblog

Tax Blogging and Sharing

Belajar Transfer Pricing di DDTC

Belajar  Transfer Pricing di DDTC

Alhamdulillah akhirnya bisa juga mengikuti kursus Transfer Pricing di DDTC (www.dannydarussalam.com) dari sesi-1 s/d terakhir.  Banyak sekali hal-hal baru mengenai transfer pricing yang bisa saya peroleh dari kursus ini. Tidak hanya mengenai apa itu Transfer Pricing, bagaimana memilih pembanding, bagaimana memilih methode yang tepat, apa itu Arm’s length principle, bagaimana membuat TP Documentation, tetapi ada juga view dari sisi hukum perpajakan, International taxation dan juga contoh kasus nyata mengenai sengketa TP di negara lain yang bisa menjadi referensi. Ada banyak tips and trick yang diajarkan oleh selama kursus, juga sharing pengalaman dari kasus nyata yang tidak bisa saya tulis semua di sini.

Sebelum mengikuti kursus ini, ketika membahas mengenai suatu transaksi yang terjadi antara para pihak yang mempunyai hubungan istimewa, seringkali  saya terjebak pada bahasan mengenai  metode apa yang paling tepat untuk digunakan serta berapa harga/nilai wajar atas transaksi tersebut.  Padahal sebelum bisa menentukan metode yang tepat, ada hal krusial yang harus lebih dulu dipahami misalnya fakta-fakta mengenai transaksi tersebut. Memahami fakta yang terjadi atas transaksi yang terjadi antara para pihak yang memiliki hubungan istimewa sangatlah penting, karena sengketa Transfer Pricing adalah “Sengketa mengenai Fakta”. Ini salah satu kata kunci yang saya peroleh dari kursus ini.

Hal lainnya, yang juga tidak kalah penting adalah “mengenal diri kita” sebelum menentukan pembanding. Jika kita tidak mengenal dengan baik mengenai “siapa diri kita” bagaimana kita bisa memilih pembanding. “Pengenalan diri” dalam konsep transfer pricing dikenal dg analisis FAR (Fungsi, Aset dan Resiko). Kemudian mengenai analisa kesebandingan (comparability analysis) yang konon merupakan jantung dari arm’s length principle.

Selama mengikuti  kursus Transfer Pricing di DDTC saya merasa bahwa saya berada di tempat yang tepat untuk belajar transfer pricing, saya bisa memperoleh gambaran yang lebih utuh mengenai Transfer Pricing.

Materi kursus yang lengkap telah didesain sedemikian rupa oleh DDTC Team sehingga mudah dimengerti. Materi kursus dari awal sampai akhir disampaikan langsung oleh Pak Danny Septiardi (PS : beliau ini satu-satunya saksi ahli Transfer Pricing di Pengadilan Pajak) dibantu team DDTC yang juga specialist Transfer Pricing –yang sudah belajar ke berbagai Negara dan pengalaman bertahun-tahun–, membuat peserta yang awam sekalipun bisa mengerti dengan baik materi yang disampaikan. Cara penyampaian satu materi lebih sering dilakukan secara interaktif oleh beberapa orang sekaligus sehingga membuat kelas lebih hidup dan membuat peserta tidak ngantuk :) .

Pada sesi terakhir, materi bahkan ditambahkan mengenai Transfer Pricing dari kacamata hukum (-semula tidak ada dalam jadwal awal-), yang disampaikan oleh Pak Fredy Karyadi (Partner di ABNR Law Firm) dan Pemeriksaan Pajak Terhadap Transaksi Afiliasi, yang disampaikan oleh Pak Balim (salah satu ahli Transfer Pricing di DJP, yang pernah menjadi fungsional pemeriksa).

Selain itu, ruang training juga sangat nyaman ditambah akses library dengan koleksi buku yang mengagumkan. Makanan yang disediakan juga enak-enak, aneka snack, Teh/kopi, makan siang semua lengkap membuat peserta makin betah.

Nahh, mumpung masih awal tahun, buat teman-teman praktisi pajak/akuntansi, baik yang bekerja di perusahaan maupun konsultan pajak, yang mungkin sedang menyusun rencana training untuk setahun ke depan atau saat ini sedang mencari topic training yang tepat untuk realisasi training Q1-2013, saya merekomendasikan untuk mengikuti Kursus Transfer Pricing ini. Bahkan jika saat ini belum ada rencana untuk training, saya sarankan untuk mengajukan proposal agar dapat mengikuti TP Course ini.  Note : Info Jadwal TP Course tahun 2013, baik regular class maupun executive class bisa dibaca di sini. 

Meskipun materi transfer pricing termasuk salah satu topic yang “advance” dalam  perpajakan, menurut saya kursus ini juga penting bagi semua level dalam divisi pajak perusahaan, konsultan pajak juga semua praktisi pajak. Bagi staff pajak entry level/fresh graduate (termasuk mahasiswa tingkat akhir), dengan mengikuti kursus TP bisa menjadi nilai tambah yang akan mendukung perkembangan karir, apalagi jika berminat untuk menjadi TP Specialist yang masih sangat jarang, kursus ini akan sangat membantu.

Bagi Supervisor/Tax Manager di Perusahaan mengikuti kursus TP sangat penting untuk meng-upgrade pengetahuan dan akan sangat mendukung pekerjaan sehari-hari, meskipun mungkin TP documentation telah dibuat oleh pihak ketiga. Dengan mengikuti kursus ini, misalnya kita akan lebih tahu bagaimana TP documentation itu seharusnya dibuat, data/informasi apa saja yang penting untuk penyusunan TP documentation. Demikian juga bagi konsultan dan praktisi pajak lainnya.

Saya sendiri, untuk berikutnya insya Allah akan mengikuti kelas Pajak International di DDTC. Ada yang mau kursus bareng saya? yukk..

About these ads

Januari 27, 2013 - Posted by | Pajak, sharing | , , ,

2 Komentar »

  1. Transfer pricing dalam lingkungan perusahaan multinasional dilakukan dengan cara melakukan transaksi antar anggota grup perusahaan multinasional yang mempunyai hubungan istimewa. Hubungan istimewa merupakan hubungan kepemilikan antara satu perusahaan dengan perusahaan lain dan hubungan ini terjadi karena adanya keterkaitan satu pihak dengan pihak lain yang tidak terdapat pada hubungan biasa. Transaksi dalam praktek transfer pricing ini biasanya meliputi penjualan barang dan jasa, lisensi harta tak berwujud lainnya, penyediaan pinjaman dan sebagainya dengan harga khusus yang direkayasa. Melalui transfer pricing tersebut, perusahaan multinasional yang bersangkutan dapat menggeser kewajiban perpajakannya dari anggota grup perusahaannya di negara-negara yang menetapkan tarif pajak yang lebih tinggi (high tax country) ke anggota grup perusahaannya di negara-negara yang menetapkan tarif pajak yang lebih rendah (low tax country). Dengan praktek transfer pricing ini, suatu perusahaan di negara tertentu akan melaporkan rugi, sehingga tidak perlu membayar pajak. Hal tersebut tentu akan menghilangkan potensi penerimaan pajak negara tersebut.

    Komentar oleh Pam O. Leblanc | Januari 31, 2013 | Balas

  2. Mau juga, tapi jauh…

    Komentar oleh Hadi Siswoyo | Maret 3, 2013 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 184 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: