Triyani’s Weblog

Tax Blogging and Sharing

Pajak untuk WNI yang bekerja dan tinggal di LN

Pajak untuk WNI yang bekerja dan tinggal di LN

Belakangan ini saya sering sekali menerima pertanyaan mengenai hal ini baik melalui blog atau melalui email.

Sebetulnya sudah sejak th 2005, ketika saya menulis artikel seri ‘ketika kita harus mempunyai NPWP’ saya berniat untuk melanjutkan tulisan tsb untuk bagian Pajak bagi WNI yang bekerja dan tinggal di LN. Sayangnya, dengan berbagai keterbatasan saya, hingga saat ini tulisan tsb belum saya selesaikan😦 .

Diskusi mengenai kewajiban pajak bagi WNI yang bekerja dan tinggal di LN makin ramai belakangan ini, karena DJP gencar mempromosikan mengenai kewajiban pajak bagi setiap individu.

Pertanyaan yang muncul terutama mengenai :
1) Apakah WNI yang bekerja dan tinggal di LN Wajib memiliki NPWP
2) Apakah WNI yang bekerja dan tinggal di LN merupakan Subyek Pajak Dalam Negeri (SPDN) atau Subyek Pajak LN
3) Apakah WNI yang bekerja dan tinggal di LN dikenakan Pajak sebagaimana WNI yang tinggal di Dalam Negeri dan juga berdasarkan wordwide Income

Pertanyaan senada juga banyak ditanyakan melalui kring pajak, ditanyakan ke fiscus baik secara langsung di KPP maupun dalam kesempatan seminar/sosialisasi. Sepanjang yang saya tahu, jawabannya berbeda-beda, dasar hukum yang digunakan mungkin sama, namun penafsiran atas  peraturan tsb berbeda, sehingga menghasilkan Jawaban yang berbeda.

Saya juga sering ngobrol/diskusi dengan beberapa teman yang bekerja di DJP (dalam kapasitasnya sebagai pribadi), baik secara langsung atau melalui milis, hasilnya.. sama juga pendapatnya beragam. Begitu juga diskusi dengan teman2 yang sama-sama berkerja di bidang pajak, sama saja.. banyak perbedaan penafsiran.

Salah satu surat formal dibuat dan ditandatangani oleh Dirjen Pajak mengenai kewajiban pajak bagi WNI yang berada/bertempat tinggal di LN adalah mengenai himbauan sunset policy bagi WNI di LN, yang mana pada bagian akhir dari surat tersebut kurang lebih tertulis sbb :  “…bahwa Warga Negara Indonesia / Wajib Pajak yang berada di Luar Negeri masih mempunyai ikatan batin dan cinta tanah air……….”

Satu hal yang saya ingat ketika awal mulai belajar pajak, bahwa sistem perpajakan di Indonesia menganut asas domisili dan tidak menganut asas kewarganegaraan. Semoga asas tersebut memang diterapkan secara benar.

Selanjutnya, ketika saya mulai belajar tax-treaty, satu hal yang saya ingat dalam hal terjadi dual residence, maka status kewarganegaraan akan dipertimbangkan untuk menentukan tax resident penduduk tsb, namun menjadi urutan kesekian setelah pertimbangan-pertimbangan lainnya.

Semoga saya memiliki kesempatan dan kemauan (ini yang penting) untuk segera menulis pendapat saya mengenai kewajiban pajak bagi WNI yang bekerja dan tinggal di LN sehingga bisa diposting sebelum tahun 2008 berakhir.

Mohon maaf  baru bisa posting iseng.

Desember 16, 2008 - Posted by | Iseng, Pajak, PPh Orang Pribadi

4 Komentar »

  1. Ya Mbak Triyani,
    mohon tolong kami ….

    >> Hiks.. Maaf, ternyata ga sempat jg karena banyak hal lain yang harus lebih saya prioritaskan😦

    Komentar oleh wni | Desember 17, 2008 | Balas

  2. Mbak Triyani,
    coba ibu dengarkan wawancara dengan BBC =
    http://www.bbc.co.uk/indonesian/

    Di bagian kanan bawah ada “Audio”,
    click siaran 1100 GMT, di tengah2 acara radio, ada wawancara BBC dengan kepala humas Ditjen Pajak bapak Djoko Slamet Surjoputro. Perhatikan komentarnya.

    Apakah komentar bapak Djoko Slamet Surjoputro yang mengatakan bahwa Income para WNI yang bekerja di luar negeri tidak akan dipajaki di Indonesia adalah salah / misleading ?

    Saya jadi bingung, mana yang benar ?

    >> Maaf telat baca comment ini dan ga sempat mendengarkan komentarnya. Sebetulnya banyak aspek yang mempengaruhi, bisa jadi tidak dikenakan pajak di Indonesia, tapi bisa jadi dikenakan di Indonesia, beda kondisi bisa beda perlakuannya.

    Komentar oleh wni | Desember 18, 2008 | Balas

  3. FINALLY = http://www.pajak.go.id/dmdocuments/PERDIRJEN%20NOMOR%202%20TAHUN%202009.PDF
    YEAHHHHHHH HIDUP PAK DARMIN NASUTION !!!!

    Komentar oleh wni | Januari 12, 2009 | Balas

  4. Mba Triyani,
    Bisa dijelaskan apa yang dimaksud beda kondisi dan beda perlakuan ? Kondisi bagaimana dan perlakukan apa ? Untuk dapat saya mengerti, sehingga saya tidak berburuk sangka.

    Thx

    >> Saya agak kurang nyambung dg pertanyaan ini.
    Tapi kurang lebih gini dehh.. beda kondisi beda perlakuan, misalnya Kondisi 1) di Indonesia masih memperoleh penghasilan, dengan kondisi 2) di Indonesia tidak memperoleh penghasilan.. tentu beda perlakuan pajaknya khan? Bagaimanapun, tetap lebih baik untuk tidak berburuk sangka hehehe -ga nyambung yaa-🙂

    Komentar oleh Asep Faozi | Januari 21, 2009 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: