Triyani’s Weblog

Tax Blogging and Sharing

UU PPh Baru berlaku 15 hari lagi

UU PPh Baru efektif berlaku sejak 1 Januari 2009, tinggal 15 hari dari sekarang, belum dipotong hari  Libur.

Sejauh yang saya tahu, sampai saat ini belum ada satupun juklak yang diterbitkan, baik PP, PMK, maupun PER DJP.  Sepanjang bulan Nov dan awal Des ini, DJP gencar melakukan sosilasiasi mengenai Sunset Policy dan UU PPh baru dengan cara mengumpulkan para Wajib Pajak.

Hal-hal yang dapat disosialisasikan hanya mengenai apa-apa yang berubah, seperti misalnya tentang penurunan tarif, kenaikan PTKP , perbedaan tarif pemotongan PPh utk WP ber-NPWP vs tanpa NPWP dan sejenisnya.  Hampir sama dengan apa yang sudah disampaikan DJP melalui siaran pers ketika UU PPh disahkan.

Bagi praktisi, yang lebih dibutuhkan adalah peraturan pelaksanaan dari UU PPh tersebut. Banyak pertanyaan yang disampaikan oleh peserta ke petugas DJP pada saat sosialisasi dan jawabnya lebih banyak standar dengan kalimat “‘peraturannya sedang digodok”, “kami sedang menyiapkan peraturan pelaksanaan”. Draft RPP-nya sudah di xxxxxx.. dalam tahap sinkronisasi dan sejenisnya.

Beberapa kali saya menerima pertanyaan teknis mengenai apa dan bagaimana yang terkait dengan pelaksanaan UU PPh baru yang akan berlaku 15 hari lagi. Dan jawaban saya singkat saja.. “belum ada aturannya tuh”…  :)

So, kapan Juklak UU PPh akan diterbitkan? Saya khawatir kalau nanti banyak peraturan yang berlaku mundur dan bikin repot.. :(

UU tanpa peraturan pelaksanaan, apa kata duniaa?

About these ads

Desember 16, 2008 - Posted by | Iseng

6 Komentar »

  1. Benar mbak…tadi yayasan kami mengundang pihak kantor pajak. Banyak hal teknis yang ditanyakan dan dijawab seperti diatas :-)

    Namanya WP khan senangnya diberi contoh yang praktis menyentuh kehidupan mereka, semisal bapak bernpwp pergi sekeluarga ke LN. Apa ya anak-anaknya bebas fiskal juga tahun 2009 :-)

    Dengan jujur, Bapak petugas memberi jawaban yang referensinya dari tabloid KONTAN mengingat juklak atawa juknisnya belum keluar.

    Harapan saya mbak…sunset policy dan sosialisasi diperpanjang.

    Biarpun sudah mejeng di mall-mall, beriklan gencar di koran dan TV tapi sampai kurang 15 hari ini masih banyak calon WP yang belum ‘ngeh’ lho mbak :-)

    Lha wong saya saja baru dapat sosialisasi tadi pagi dan langsung pusing mengingat selama ini gak pernah ngitung bunga tabungan di bank yang ternyata harus dicantumkan dalam SPT Pribadi.

    Untung saja ada mbak dan beberapa teman yang berbaik hati memposting aneka artikel yang sangat berguna ini :-)

    Keep on posting ya, mbak :-)

    >> ya yaa.. Alhamdulillah akhirnya sunset policy diperpanjang. Mengenai Fiskal LN juga sudah keluar peraturannya.

    Komentar oleh Grace | Desember 16, 2008 | Balas

  2. Ehmmm…
    Jadi inget tahun 2000, di mana UU baru mulai berlaku tahun 2001

    Juklak-juklaknya baru terbit di tanggal 22-24 Desember 2000
    dan itu berlaku muali 1 Januari 2001. :)

    Sepertinya kebiasaan buruk ini masih terjadi

    >> 2 aturan yang sudah direlease tertanggal 31-12-2008 dan mulai berlaku 1 Jan 2009.. *kereeeeeeeeeenn* :(

    Komentar oleh Rulli | Desember 17, 2008 | Balas

  3. Betul Mbak… sejauh ini banyak berita2 ttg bebas fiskal untuk WNI luar negeri, tp krn RUU barunya belum disetujui & dikeluarkan, jadi bingung..

    Makasih banyak Mbak untuk semua postingnya, sangat bermanfaat.

    >> Mengenai fiskal LN sekarang (030109) sudah ada. Yang masih belum ada juga berbagai juklak yang lainnya… :(

    Komentar oleh noni | Desember 19, 2008 | Balas

  4. Mau Tanya mbak,
    Apakah benar kalo ada peraturan baru, Badan usaha PT (misalnya perdagangan) musti laba minimal 5%, ya?
    Kalo laba di bawah 5%, misalnya 2% ga boleh kl PT, apalagi kl grosiran di pasarpagi misalnya untungnya kan 1-2% juga dijual?
    Bagaimana kalo barang tiba2 turun harga, kalo ga dijual turun, barangnya malah rusak dan ga bisa di balikin ke supplier. kalo dijual ya malah rugi(jadi minus %labanya???

    >> Setahu saya, tidak ada tuh aturan seperti itu

    Komentar oleh Riyahdi | Desember 19, 2008 | Balas

  5. Saya mulai buka toko tahun 2007 sampai sekarang. Tapi saya baru punya NPWP tanggal 18 November 2008.dan saya diajarkan sama Petugas Pajak untuk mengisi SPT Masa bulan Desember untuk November.
    Pada saat itu saya diajarkan untuk mengisi NIHIL. Padahal kalau saya hitung-hitung saya ada penghasilan pada tahun 2008. Kalau tahun 2007 memang tidak ada penghasilan, jadi saya sekarang harus bagaimana yah ? Mohon Petunjuknya. Apakah saya harus ikut Sunset ?

    >> saat terdaftar-nya di KPP dan punya NPWP tidak selamanya menentukan tentang kapan saat kewajiban pajak dimulai. Kewajiban pajak sesungguhnya dimulai ketika terpenuhi syarat subyektif dan obyektif (Ada penghasilan di atas PTKP). Karena toko sudah buka sejak 2007 dan tentunya sudah ada penghasilan, saya sarankan Anda memanfaatkan fasilitas sunset policy. Namun jika selama tahun 2007 blm ada penghasilan, maka tdk masalah jk laporan dimulai th 2008.

    Utk th 2008 lapor SPT Tahunan dengan melaporkan penghasilan yang diterima/diperoleh selama tahun 2008 (Jan-Des). Laporan Nihil yang dibuat mungkin untuk SPT Masa PPh 25. Besarnya PPh 25 bagi WP baru, memang adakalanya NIHIL, namun seharusnyadihitung berdasarkan penghasilan yang diterima/diperoleh pada bulan 1.
    Saran saya, sebaiknya segera membuat SPT Tahunan th 2008 sehingga angsuran PPh 25 tahun berikutnya sudah dihitung berdasarkan SPT Tahunan th 2008.

    Karena Toko, ada kemungkinan Anda termasuk kelompok WPOP tertentu yang PPh 25-nya dihitung berdasarkan omzet.
    Ini perlu dicek lebih dulu.

    Komentar oleh Iwan | Januari 6, 2009 | Balas

  6. Yth. Mbak Triyani..

    Saya cukup dibuat bingung oleh contoh penghitungan PPh terutang, pada Penjelasan Pasal 17 UU No. 36 Tahun 2008 di bawah ini:

    >> Jangan bingung-bingung :)

    ***
    Pasal 17 (Penjelasan)
    Ayat (1)
    Huruf a
    Contoh penghitungan pajak yang terutang untuk Wajib Pajak
    orang pribadi:
    Jumlah Penghasilan Kena Pajak Rp 600.000.000,00.
    Pajak Penghasilan yang terutang:
    5% x Rp 50.000.000,00 = Rp 2.500.000,00
    15% x Rp 200.000.000,00 = Rp 30.000.000,00
    25% x Rp 250.000.000,00 = Rp 62.500.000,00
    30% x Rp 100.000.000,00 = Rp 30.000.000,00 (+)
    Rp 125.000.000,00
    ***

    Mengapa PKP 600 juta harus dibagi dengan porsi lapisan masing-masing 50, 200, 250 dan sisanya 100 juta? Kebingungan saya tertuju pada lapisan 15% dengan angka 200 jutanya itu. Bukankah itu berarti mengurangi pajak? Apakah pada contoh tersebut berarti diharuskan membagi dengan maksimal 200 juta pada lapisan 15%? Saya kira tidak demikian, tetapi bagaimana menurut pendapat Anda?

    Bukankah seharusnya PKP 600 juta dibagi dengan porsi masing-masing lapisan 50, 50, 250 dan sisanya 250 juta?

    >> Penjelasannya sbb :
    Penghasilan Kena Pajak 0 s/d 50 Juta kena tarif 5%.
    Penghasilan kena Pajak di atas 50 Juta s.d 250 Juta kena tarif 15%. (angka 200jt di atas jika ditambah dg 50 jt pada lapisan pertama secara kumulatif berjumlah Rp 250Jt)
    selanjutnya penghasilan kena pajak di atas 250 jt s/d 500 juta kena tarif 25% (angka 250jt di atas jika ditambah dg 50jt dan 250 jg maka secara kumulatif berjumlah Rp 500jt)
    selanjutnya penghasilan kena pajak di atas 500 juta kena tarif 30% (angka 100 juta di atas adalah jumlah di atas 500 jt).

    Tentu saja hasilnya akan berbeda dengan porsi ini.
    ###
    Jumlah Penghasilan Kena Pajak Rp 600.000.000,00.
    Pajak Penghasilan yang terutang:
    5% x Rp 50.000.000,00 = Rp 2.500.000,00
    15% x Rp 50.000.000,00 = Rp 7.500.000,00
    25% x Rp 250.000.000,00 = Rp 62.500.000,00
    30% x Rp 250.000.000,00 = Rp 75.000.000,00 (+)
    Rp 147.500.000,00
    ###

    Mengapa demikian? Karena saya membandingkan dengan contoh pada Penjelasan Pasal 17 UU No. 17 Tahun 2000. Dalam hal ini penghitungan tarif (menurut saya “selalu”) dihitung berdasarkan porsi minimal. Porsi minimal yang saya maksud disini merujuk pada angka terendah setiap lapisan tarif PPh Pasal 17 UU No. 17 Tahun 2000, yaitu 25, 25, 50, 100 dan sisanya.
    ***
    Pasal 17 (Penjelasan)
    Ayat (1)
    Huruf a
    Contoh penghitungan pajak terutang untuk Wajib Pajak orang pribadi
    Jumlah Penghasilan Kena Pajak Rp 250.000.000,00
    Pajak Penghasilan terutang:
    5% x Rp 25.000.000,00 = Rp 1.250.000,00
    10% x Rp 25.000.000,00 = Rp 2.500.000,00
    15% x Rp 50.000.000,00 = Rp 7.500.000,00
    25% x Rp 100.000.000,00 = Rp 25.000.000,00
    35% x Rp 50.000.000,00 = Rp 17.500.000,00 (+)
    Rp 53.750.000,00
    ***

    Jika PKP 600 juta, maka porsi masing-masing lapisan 25, 25, 50, 100, 400 juta.
    ###
    Jumlah Penghasilan Kena Pajak Rp 600.000.000,00.
    Pajak Penghasilan yang terutang:
    5% x Rp 25.000.000,00 = Rp 1.250.000,00
    10% x Rp 25.000.000,00 = Rp 2.500.000,00
    15% x Rp 50.000.000,00 = Rp 7.500.000,00
    25% x Rp 100.000.000,00 = Rp 25.000.000,00
    35% x Rp 400.000.000,00 = Rp 140.000.000,00 (+)
    Rp 176.250.000,00
    ###

    Dikarenakan tidak ada contoh lain pada Penjelasan Pasal 17, bagi saya hal ini cukup janggal, sehingga tidak dapat saya simpulkan rumus bakunya.

    Saya kira kita semua setuju bahwa menghitung PPh tidak bisa seenaknya diakal-akali dengan gaya bebas.

    Saya sangat awam sekali mengenai perpajakan, mohon pencerahannya..
    Sebelumnya saya ucapkan terima kasih..

    >> Tarif PPh dan besarnya lapisan penghasilan di masing2 tarif telah diubah berdasarkan UU No 36 tahun 2008, dan tidak ada lapisan tarif 10%, jangan rancu dg contoh berdasarkan UU No 17.

    Rumus baku-nya dalam excel versi saya sederhana saja kok :
    =ROUND(IF(A1>=500000000;(30%*(A1-500000000)+95000000);IF(A1>=250000000;(25%*(A1-250000000)+32500000);IF(A1>=50000000;(15%*(A1-50000000)+2500000);IF(A1>0;(5%*A1);0))));0)

    Notes : Cell A1 = Penghasilan Kena Pajak.

    Salam..

    Komentar oleh Akli Syahbana | Januari 13, 2009 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 177 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: